Hai apa kabar. Kabar saya agak ngantuk. Lebih tepatnya ngantuk sekali karena ini sudah pukul 11.29. Malam, bukan siang.
Namun karena laptop menyala dan modem menancap dengan mesranya. Maka sulit bagi saya untuk tidak iseng. Seperti membuka blog kemudian menuliskan puisi ini di blog indah saya.
Maaf ini bukan puisi. Maksud saya ini lirik lagu. Lagu tidak jelas.
Kali ini saya ingin bercerita mengenai pengalaman pahit sekaligus indah yang menimpa Sebuah Jari Misterius.
Tenang, wajahnya tidak usah tegang begitu. Kamu cantik kalau santai :)
*bergaya ala pleboi merayu gadis lugu*
Baiklah. Begini awal mula kisahnya.
Pada suatu siang menjelang sore yang tenang, seorang mahasiswa semester sekian mendatangi dosen pembibingnya di Kantor Jurusan Sastra Inggris Universitas Diponegoro, Indonesia, Ya Indonesia. Memangnya manalagi yang namanya Undip di muka bumi ini.
Seseorang itu tidak lain dan tidak bukan adalah saya, Ade Irma Mentari. Gadis desa lugu yang sedang mencari jati diri menemukan kapak emas di suatu sungai dimana ada pertapa yang... Sial kenapa selalu nyambung ke dongeng bocah ingusan,
Setibanya di Kajur atau kantor jurusan, saya menemui dosen pembimbing saya untuk mendapatkan koreksi project (Tugas Akhir) saya. Setelah bimbingan cukup lama, kemudian Pak Arido, dosen pembimbing sya tersebut, memberikan pertanyaan misterius kepada saya. Kami terlibat dalam pembicaraan misterius lebih kurang sebagai berikut:
"Kamu suka memasak ya?" Pak Arido bertanya pada saya.
"Iya Pak." Jawab saya, karena saya memang suka memasak. Rasa masakan saya? Itu dibahas kapan-kapan saja.
"Oh pantas. Jari kamu ada goresannya." Kata Pak Arido melirik jari telunjuk saya yang misterius itu, segores sayatan sepanjang 2 cm yang seksi.
"Oh..." Jawab saya pendek.
Saya beritahu. khusus anda yang membaca blog saya ini. Imej saya dengan sayatan di jari yang kemudian disangka sebagai hasil dari hobi memasak nampaknya mengangkat imej saya sebagai perempuan.
Namun tahukah anda bahwa....
Sayatan itu sebenarnya berasal dari ember cucian. Saat saya sedang mencuci dan mengangkat ember dengan tangguhnya laksana Agung Hercules di hari sebelumnya.
Sebuah pengalaman pahit karena tersayat ember, namun juga pengalaman indah karena ada juga yang berbaik sangka itu luka karena memasak.
Terima kasih sudah membaca blog saya, maaf informasinya tidak penting-penting amat.
Dan jangan tanyakan saya kenapa judulnya jari misterius, kenapa jari saya misterius, dsb yang misterius-misterius.
Karena saya juga tidak tahu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar