Selasa, 10 Maret 2015

Selamat Tinggal Febrianto

Woy Diary...

Malam ini saat sedang mengajar private anak didik, pikiran saya tidak bisa lepas dari sesosok si bolong itu.
Sundel bolong? Hey bukan.
Ini clue nya: dia bulat. Bolong di tengah. Ada taburan mesis melingkarinya. Empuk. Ada di kulkas kos saya.

Benar. Benda itu adalah ban angkot terlepas yang tidak sengaja ketempelan mesis dan ada seseorang yang iseng meletakannya di kulkas kosan saya.

Tidak. Bukan itu.

Dia adalah sosok yang biasa disapa Donat. Nama panjangnya Donatun Ceriatun Enakudin Febrianto. Saya sih menyebutnya Febrianto. Supaya tidak mainstream.

Pulang mendidik anak bangsa malam ini, nafsu saya tidak tertahankan lagi untuk bisa menghabisi Febrianto malam ini juga. Febrianto saya dapatkan tadi siang di sebuah warung kecil yang tidak terlalu mencurigakan di dekat kosan saya. Febrianto dan kawan-kawannya nampak menggairahkan hingga akhirnya saya jumput dan bawa pulang sebuah Febrianto. Sudah dibayar kok.

Kembali ke plot saat saya pulang mengajar anak didik tadi.

Sekembalinya di kosan, segera saya dengan penuh gairah membuka kulkas untuk menemui Febrianto.
Dan ternyata... FEBRIANTO LENYAP

Kemudian saya baru menyadari.

Saya sudah melahap Febrianto sebelumnya tadi sore.

Sebelum berangkat mengajar les private.


Kehilangan, perasaan saya malam ini. Saat sesuatu yang diimpi-impikan sekian lamanya kemudian kandas ketika kebenaran terungkap.

Febrianto, selamat tinggal. Saya bahkan belum say bye dengannya. Ia termakan begitu cepat.

Maaf jika malam ini postingan saya mengisahkan kesedihan yang begitu mendalam. Dari sini saya mengambil hikmah bahwa.

Beli donat jangan cuma satu.

Benar juga. Semoga besok bisa bertemu dengan Febrianto-Febrianto yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar