Rabu, 04 Februari 2015

Bahaya Namun Wenak

Tentunya akan ada banyak jawaban untuk pertanyaan : "Apa yang berbahaya namun enak?"

Pada siang yang cukup mendung dan berangin ini, meski anginnya agak bau - oh iya saya barusan ngebom - tersebutlah saya tengah berlehe-lehe di atas sebuah sofa tua di ruang tamu rumah sembari menyaksikan yang di depan sana lalu lalang tiada henti.
Koran sudah dibaca. Teh pun sudah tinggal gelas. Lengkap sudah kebahagiaan ini meski ada satu hal yang masih menggelora di hati yaitu : perut eneg.

Kalau boleh syu'udhon, nampaknya perut eneg yang sejak pagi ini diprakarsai oleh sesuatu yang berhubungan dengan judul di atas, Bahaya Namun Wenak.

Maka pada kesempatan yang eneg ini, bolehlah saya sebutkan apa yang berbahaya namun wenak yaitu: jajan sembarangan.
Kemarin tepatnya, saya menemukan sesosok lidi-lidian pedas di sebuah warung kecil yang terletak tak jauh dari sebelah sananya sana. Syaraf sensorik dan motorik menjadikan lidi-lidian tersebut secara tidak sengaja sampai di rumah.
Tiba-tiba, tak lama, bibir saya sudah merah semua dan kantong lidi-lidian tadi sudah kosong. Berarti, sudah saya habisi ya? Gile lu ndro, merah semua tangan dan paruh saya. Pewarnanya main banget.




Kini perutlah yang merasakannya.

Postingan ini bukan bermaksud menyudutkan penjual lidi-lidian, hanya bermaksud berbagi terhadap sesama agar lebih berhati-hati dalam konsumsi jajanan. Seperti saya yang kini dilanda eneg di perut.

Tapi.... Kalau tidak salah pas makan lidi-lidian kemarin saya belum cuci tangan ya.

Oh berarti ini bukan salah lidi-lidiannya. Ini semua salahmu, Fernando!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar